Blatter, Pria kelahiran Swiss mengatakan bahwa rasa cemburu merupakan motif utama dirinya diserang.

Blatter sang presiden FIFA mengatakan kepada Kerja Bola bahwa dirinya dijadikan kambing hitam untuk kegagalan dari orang lain, diduga semua ini karena perasan sinis dari beberapa orang. Bahkan mereka akan meyalahkan Blatter untuk masalah pemanasan global.

Pria kelahiran Swiss ini mengumumkan kepada publik bulan lalu bahwa ia akan mengundurkan diri dari jabatannya karena ia tidak lagi mendapat dukungan penuh dari semua orang yang berada dalam permainan FIFA. Dimana FIFA sendiri barusan mendapatkan hantaman bertubi-tubi oleh masalah korupsi. Hal ini sampai dihebohkan dengan penangkapan 14 orang dalam dua hari setelah Blatter dipilih ulang.

Blatter menyatakan dirinya difitnah dan diperlakukan tidak adil, dimana untuk kasus tersebut dirinya belum didakwa dengan kejahatan apapun, Blatter lantas menegaskan dirinya tidak bertanggung jawab atas semua tindakan karyawan FIFA.

“Saya hanya manusia biasa, saya tidak mungkin melihat segalanya, dan mustahil untuk saya bertanggung jawab untuk segalanya, Bahkan untuk masalah piala dunia wanita yang baru selesai akhir-akhir ini.” ucap Blatter kepada agen sbobet terpercaya.

Blatter yang tidak terima dirinya dinyatakan bertanggung jawab terhadap semua hal tersebut lantas bertanya “Apakah saya bertanggung jawab dengan perubahan iklim juga?”

“Tidak mungkin untuk membasmi perampokan dan pembunuhan, bahkan dengan sistem pengadilan berfungsi hingga ke tingkat masyarakat. Sepakbola tidak lebih baik dari masyarakat kita. Namun rasa cemburu tersebut telah bernanah selama bertahun-tahun. Envy adalah predikat cemburu. Dan kecemburuan berakar pada cinta.”

“Ini bisa, bagaimanapun, giliran untuk membenci. Dan itulah yang terjadi ketika tsunami ini melanda kita dua hari sebelum kongres.”

14 Penangkapan merupakan hasil dari penyelidikan FBI yang dipimpin dugaan korupsi kencan kembali ke tahun 1991, sementara pemerintah Swiss telah membuka penyelidikan terpisah ke suara FIFA yang mengakibatkan Rusia dan Qatar yang dianugerahi dua Piala Dunia berikutnya.

Beberapa karyawan FIFA menilai Blatter terlalu membesarkan masalah tersebut karena menurut semua karyawan hal korupsi akan terungkap bila sudah saatnya dan Blatter hanya perlu diam menunggu hari tersebut.